JAKARTA - Ketahanan pangan nasional menunjukkan penguatan signifikan seiring tercapainya swasembada beras.
Surplus beras nasional tercatat meningkat tajam hingga 243,2 persen dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini menandai posisi Indonesia yang semakin mandiri dan berkelanjutan dalam pemenuhan pangan pokok.
Badan Pangan Nasional menegaskan capaian tersebut sebagai hasil kebijakan terarah pemerintah. Fokus utama diarahkan pada peningkatan produksi dalam negeri dan perlindungan petani. Upaya ini menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pangan nasional yang kokoh.
Surplus produksi beras menjadi indikator utama keberhasilan swasembada. Produksi nasional kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga menyisakan cadangan. Situasi tersebut memperkuat daya tahan pangan nasional di tengah dinamika global.
Lonjakan Surplus Produksi Beras Nasional
Dalam perhitungan terbaru, surplus produksi beras terhadap konsumsi nasional pada 2025 mencapai 3,52 juta ton. Angka ini berasal dari total produksi 34,71 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 31,19 juta ton per tahun. Selisih tersebut menunjukkan kemampuan produksi yang melampaui kebutuhan masyarakat.
Lonjakan surplus ini dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Pada 2022, produksi beras berada di angka 31,54 juta ton dengan konsumsi 30,51 juta ton. Surplus pada periode tersebut masih sebesar 1,02 juta ton.
Perbandingan data tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Dari surplus 1,02 juta ton, capaian melonjak menjadi 3,52 juta ton. Kenaikan ini menegaskan keberhasilan akselerasi produksi beras nasional.
Dinamika Produksi dan Konsumsi Tahunan
Perjalanan menuju swasembada beras tidak terjadi secara instan. Pada 2023, surplus produksi terhadap konsumsi masih tergolong kecil. Produksi beras saat itu sekitar 31,1 juta ton dengan konsumsi 30,9 juta ton.
Surplus pada 2023 hanya berkisar 204,29 ribu ton. Kondisi ini menunjukkan tantangan besar dalam menjaga keseimbangan produksi dan konsumsi. Pada 2024 bahkan tidak tercatat adanya surplus produksi beras terhadap konsumsi.
Situasi berubah signifikan pada 2025 ketika produksi meningkat tajam. Perbaikan kebijakan dan dukungan menyeluruh mulai menunjukkan hasil nyata. Tahun tersebut menjadi titik balik pencapaian swasembada beras nasional.
Peran Kebijakan Impor dan Harga Gabah
Salah satu indikator kuat swasembada beras adalah nihilnya impor untuk Cadangan Beras Pemerintah. Pemerintah tidak lagi melakukan impor beras umum untuk konsumsi masyarakat. Produksi dalam negeri dinilai telah mencukupi kebutuhan nasional.
Pada tahun-tahun sebelumnya, impor masih dilakukan untuk menjaga cadangan. Tahun 2022 pemerintah mengimpor 57,4 ribu ton untuk cadangan beras. Impor meningkat pada 2023 menjadi 2,81 juta ton dan pada 2024 mencapai 3,85 juta ton.
Strategi lain yang berperan penting adalah menjaga harga gabah kering panen di tingkat petani. Pemerintah bersama Perum Bulog berhasil menjaga stabilitas harga sepanjang 2025. Kebijakan ini memberi kepastian dan semangat bagi petani untuk meningkatkan produksi.
Dukungan Petani dan Peneguhan Swasembada
Penetapan Harga Pembelian Pemerintah Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen menjadi salah satu langkah strategis. Kebijakan ini berlaku untuk semua kualitas gabah di tingkat petani. Langkah tersebut dinilai efektif dalam menjaga kesejahteraan petani.
Keberhasilan produksi beras nasional juga tidak terlepas dari peran petani di seluruh Indonesia. “Kami mewakili seluruh petani Indonesia, ada 160 juta mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden yang luar biasa perhatiannya sektor pertanian, produksi (beras) kita 34 juta ton,” ungkap Amran. Pernyataan ini mencerminkan apresiasi terhadap dukungan pemerintah.
Puncak pencapaian ditandai dengan pengumuman resmi swasembada beras. “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini Rabu 7 Januari tahun 2026, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia,” ucap Presiden Prabowo. Presiden menegaskan keberhasilan ini sebagai kemenangan penting berkat kerja keras dan persatuan komunitas pertanian nasional.