Ekspor

Ekspor Industri Pengolahan RI Tumbuh 14 Persen Januari-November 2025

Ekspor Industri Pengolahan RI Tumbuh 14 Persen Januari-November 2025
Ekspor Industri Pengolahan RI Tumbuh 14 Persen Januari-November 2025

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan ekspor di sektor industri pengolahan Indonesia sebesar 14% year-on-year (yoy) hingga mencapai US$205,93 miliar pada periode Januari-November 2025. 

Angka ini meningkat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat US$180,65 miliar, dan juga lebih tinggi dibandingkan capaian 2023 sebesar US$170,90 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa sektor industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor nonmigas, bersama sektor pertanian.

“Jika dilihat menurut sektor, peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan dan sektor pertanian,” ujar Pudji.

Sektor ini memainkan peran vital dalam menopang kinerja ekspor, sekaligus menjadi barometer kemampuan manufaktur Indonesia menghadapi dinamika pasar global.

Peningkatan Ekspor Nonmigas Secara Keseluruhan

Secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$244,75 miliar, naik 7,07% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$228,59 miliar.

Pudji menekankan bahwa kontribusi sektor industri pengolahan terhadap peningkatan ekspor nonmigas mencapai 10,41%, menjadikannya pendorong utama pertumbuhan perdagangan internasional di luar migas.

Kenaikan ekspor ini menunjukkan adanya pemulihan permintaan global, diikuti kemampuan produsen domestik memenuhi standar internasional dan memperluas jangkauan pasar. Hal ini juga mencerminkan strategi penguatan sektor manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Komoditas Unggulan yang Menjadi Pendorong

BPS mencatat sejumlah komoditas unggulan di sektor industri pengolahan yang mengalami peningkatan ekspor cukup signifikan. Beberapa produk utama antara lain:

Minyak kelapa sawit

Barang perhiasan dan barang berharga

Kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian

Logam dasar bukan besi

Semikonduktor dan komponen elektronik lainnya

“Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu minyak kelapa sawit, barang perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, logam dasar bukan besi, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya,” jelas Pudji.

Komoditas-komoditas ini menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekspor, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, terutama di sektor manufaktur dan teknologi.

Tujuan Ekspor dan Tren Regional

Jika dilihat menurut negara tujuan utama, nilai ekspor nonmigas ke China tercatat US$58,24 miliar, naik 6,42% dibanding Januari-November 2024. Negara lain yang mencatat kenaikan signifikan antara lain:

Amerika Serikat: US$28,14 miliar, naik dari US$24,05 miliar

ASEAN: US$47,21 miliar

Uni Eropa: US$17,75 miliar

Sementara itu, ekspor ke India menurun menjadi US$16,44 miliar, menunjukkan adanya pergeseran permintaan global yang perlu diperhatikan pelaku industri.

Tren ini menunjukkan bahwa meskipun pasar ekspor utama cenderung positif, pelaku usaha tetap harus waspada terhadap fluktuasi permintaan dan kebijakan perdagangan yang bisa mempengaruhi kinerja ekspor.

Tantangan, Peluang, dan Dampak Ekonomi

Pertumbuhan ekspor industri pengolahan memberikan dampak positif bagi neraca perdagangan nonmigas dan stabilitas ekonomi nasional. Sektor ini tidak hanya menyokong penerimaan devisa, tetapi juga meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan memperkuat rantai pasok domestik.

Meski tren positif terlihat jelas, tantangan tetap ada, termasuk fluktuasi harga komoditas global, persaingan internasional, serta regulasi tarif dan proteksi pasar di negara tujuan. 

Di sisi lain, peluang tetap terbuka melalui perluasan pasar ke China, AS, ASEAN, dan Uni Eropa, serta pengembangan produk bernilai tambah yang memenuhi standar global.

Strategi penguatan ekspor melalui industri pengolahan ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis manufaktur, meningkatkan profesionalisme pelaku usaha, dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global. 

Pudji menekankan bahwa kinerja sektor ini akan terus menjadi indikator penting kesehatan ekonomi nasional, seiring dengan pemulihan ekonomi dunia dan inovasi dalam produk ekspor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index