Produksi Bersama IATA dan United Tractors

Produksi Bersama IATA dan United Tractors Jadi Langkah Strategis Penguatan Tambang

Produksi Bersama IATA dan United Tractors Jadi Langkah Strategis Penguatan Tambang
Produksi Bersama IATA dan United Tractors Jadi Langkah Strategis Penguatan Tambang

JAKARTA - Kerja sama pertambangan antara PT MNC Energy Investments Tbk dan PT United Tractors Tbk kini memasuki tahap baru. 

Proyek tambang yang dikembangkan bersama tersebut secara resmi telah memasuki fase produksi. Langkah ini menandai transisi penting dari tahap perencanaan menuju operasional penuh.

Masuknya tambang ke fase produksi menjadi sinyal positif bagi pengembangan aset pertambangan perseroan. Kolaborasi ini dipandang sebagai upaya memperkuat kinerja operasional secara berkelanjutan. Dengan dimulainya produksi, perseroan optimistis target yang ditetapkan dapat tercapai.

Fase produksi ini juga mencerminkan kesiapan teknis dan manajerial kedua belah pihak. Seluruh persiapan dasar telah diselesaikan sesuai rencana. Dengan demikian, kegiatan operasional dapat berjalan sesuai tahapan yang dirancang.

Penanda Operasional Melalui First Digging Ceremony

Dimulainya fase produksi ditandai dengan pelaksanaan First Digging Ceremony. Kegiatan tersebut menjadi simbol dimulainya aktivitas pertambangan secara resmi. Momentum ini mencerminkan kesiapan proyek memasuki tahap operasional.

First Digging Ceremony merupakan tindak lanjut dari penandatanganan perjanjian kerja sama sebelumnya. Kesepakatan Mining Contractor Agreement telah diteken pada akhir Desember 2025. Perjanjian tersebut menjadi landasan hukum dan teknis pelaksanaan proyek.

Melalui seremoni ini, kedua pihak menegaskan komitmen menjalankan kerja sama sesuai kesepakatan. Tahap awal operasional diharapkan berjalan lancar dan efisien. Aktivitas produksi pun mulai dijalankan secara bertahap.

Struktur Kerja Sama Anak Usaha dan Kontraktor

Dalam kerja sama ini, anak usaha IATA berperan sebagai pemegang izin usaha pertambangan. PT Arthaco Prima Energy menjadi entitas yang menandatangani perjanjian operasional. Perusahaan tersebut mengelola wilayah tambang yang menjadi objek kerja sama.

Sementara itu, United Tractors menugaskan unit bisnis pertambangannya sebagai kontraktor. PT Kalimantan Prima Persada ditunjuk untuk menjalankan aktivitas operasional tambang. Peran ini mencakup aspek teknis dan pelaksanaan produksi di lapangan.

Struktur kerja sama ini dirancang untuk memaksimalkan keunggulan masing-masing pihak. IATA fokus pada pengelolaan izin dan pengembangan aset. United Tractors berkontribusi melalui pengalaman dan kapabilitas operasional pertambangan.

Nilai Kontrak dan Penguatan Kapasitas Produksi

Nilai kontrak kerja sama antara kedua pihak mencapai Rp5 triliun. Periode kerja sama ditetapkan selama lima tahun. Kesepakatan tersebut berlaku efektif mulai Januari 2026.

Perjanjian ini diharapkan memperkuat kapasitas produksi perseroan. Wilayah operasional berada di area Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi milik APE. Lokasi tambang tersebut terletak di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Dengan dukungan kontrak jangka menengah, operasional tambang dapat direncanakan secara optimal. Kegiatan produksi dan pengelolaan sumber daya dilakukan lebih terstruktur. Hal ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan usaha.

Target Produksi dan Nilai Berkelanjutan

Manajemen menilai kolaborasi ini memperkuat fundamental teknis dan keunggulan operasional perseroan. Kerja sama strategis dengan kontraktor berpengalaman menjadi faktor pendukung utama. Langkah ini juga mempertegas arah pengembangan bisnis jangka panjang.

“Momentum First Digging Ceremony ini menegaskan komitmen IATA bersama KPP Mining untuk merealisasikan target produksi yang ambisius, sekaligus menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya. Pernyataan tersebut mencerminkan fokus perseroan pada kinerja dan keberlanjutan. Nilai tambah diharapkan dirasakan oleh seluruh pihak terkait.

Target awal produksi pada tahun 2026 dipatok sekitar 3 juta metrik ton. Seiring peningkatan skala operasional, potensi produksi jangka menengah diperkirakan meningkat. Produksi tahunan berpeluang mencapai hingga 7 juta metrik ton per tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index