Nilai Tukar Rupiah

Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 7 Januari 2026

Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 7 Januari 2026
Update Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 7 Januari 2026

JAKARTA - Pada Rabu, 7 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan bergerak fluktuatif, dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS. 

Meskipun terdapat dinamika global yang memengaruhi pasar, proyeksi ini mencerminkan respons pasar terhadap sejumlah faktor ekonomi domestik dan internasional yang turut menggerakkan mata uang Indonesia.

Rupiah Ditutup Melemah, Dolar AS Terus Menguat

Menurut data yang dihimpun dari Bloomberg pada 6 Januari 2026, rupiah ditutup melemah sebesar 0,11% ke level Rp16.758 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat tipis 0,06% ke level 98,21. Kondisi ini menunjukkan dominasi dolar AS yang masih kuat di pasar global, sementara rupiah berada dalam tekanan melemahnya posisi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Mata Uang Asia Bervariasi, Dampak Sentimen Eksternal

Seiring dengan pergerakan rupiah, mata uang Asia lainnya menunjukkan variabilitas yang beragam. Yen Jepang tercatat menguat 0,10%, sementara dolar Hong Kong dan won Korea Selatan justru melemah masing-masing sebesar 0,01% dan 0,03%. Di sisi lain, beberapa mata uang Asia Tenggara, termasuk ringgit Malaysia, baht Thailand, dan yuan China, mengalami penguatan, masing-masing sebesar 0,62%, 0,45%, dan 0,11%. Sebaliknya, peso Filipina tercatat melemah 0,17%, mengindikasikan perbedaan dampak dari perkembangan global terhadap mata uang Asia yang beragam.

Sentimen dari Venezuela dan Proyeksi Ekonomi AS

Salah satu faktor yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar adalah perkembangan politik global, termasuk situasi di Venezuela. Ibrahim Assuaibi, Direktur Traze Andalan Futures, mengungkapkan bahwa laporan mengenai pelantikan Delcy Rodriguez sebagai presiden sementara Venezuela pada 6 Januari 2026 turut memberikan pengaruh terhadap sentimen pasar. Meskipun dukungan internasional untuk Presiden Nicolás Maduro tetap ada, ketidakpastian politik di Venezuela dapat mempengaruhi pasar global, khususnya terkait dengan kebijakan AS terhadap negara tersebut.

Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan. Indeks PMI Manufaktur ISM AS untuk Desember 2025 tercatat turun menjadi 47,9, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 48,3, dan menandakan penurunan aktivitas manufaktur yang berkelanjutan. Penurunan ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur AS masih mengalami kontraksi untuk bulan kesepuluh berturut-turut, yang dapat memberikan dampak pada perekonomian global dan nilai tukar dolar.

Inflasi Jakarta Terkendali, Pengaruh Terhadap Rupiah

Sementara itu, data domestik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan bahwa inflasi di Jakarta pada tahun 2025 tetap terkendali di angka 2,63%, meskipun sedikit lebih tinggi dari target yang diperkirakan, yaitu 2,5%. Inflasi yang dipengaruhi oleh sektor makanan, minuman, dan tembakau ini menunjukkan adanya tekanan harga komoditas di pasar domestik, yang turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Jakarta pada Desember 2025 tercatat mencapai 108,47, mengalami kenaikan dibandingkan dengan Desember 2024 yang berada di level 105,69. Meskipun inflasi berada dalam batas yang wajar, hal ini tetap memberikan tantangan bagi kebijakan moneter Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Pergerakan Rupiah Ke Depan: Fluktuatif dengan Kecenderungan Melemah

Melihat kondisi yang ada, Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan terus bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu, 7 Januari 2026. “Untuk perdagangan Rabu, nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS,” ujarnya.

Pergerakan mata uang Indonesia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, termasuk kebijakan moneter di AS dan perkembangan politik internasional yang dapat mengubah sentimen pasar. Selain itu, kebijakan ekonomi domestik Indonesia juga akan memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kesiapan Indonesia Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

Dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, pemerintah Indonesia, melalui Bank Indonesia dan otoritas moneter lainnya, terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi. Mengingat ketidakpastian global yang terus berlanjut, termasuk dalam hal inflasi dan ketegangan geopolitik, Indonesia harus tetap fokus pada penguatan fundamental ekonomi domestik, serta menjaga daya saing rupiah agar tetap stabil di tengah ketidakpastian pasar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index