JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah segera memulai pembangunan proyek “Waste to Energy” atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di 34 titik. Proyek ini merupakan bagian dari program hilirisasi yang akan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) mulai Januari hingga Maret 2026.
“Berkenaan dengan (proyek) Waste to Energy yang akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik, yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari, ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah,” kata Prasetyo, Selasa, 7 Januari 2026, di media center kawasan Hambalang, Bogor.
Proyek PSEL diprioritaskan karena volume timbunan sampah harian di beberapa daerah telah mencapai rata-rata 1.000 ton per hari. Pembangunan fasilitas ini diharapkan mampu mengurangi beban lingkungan sekaligus menekan risiko kesehatan akibat penumpukan sampah.
Teknologi Waste to Energy memungkinkan sampah yang tidak dapat didaur ulang diubah menjadi energi, seperti listrik, panas, atau bahan bakar alternatif. Upaya ini juga mendukung kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional, seperti batu bara.
Hilirisasi Strategis dengan Investasi Triliunan Rupiah
PSEL merupakan salah satu dari 18 proyek hilirisasi strategis yang akan dikerjakan dalam periode Januari hingga Maret 2026. Seluruh proyek ini telah melewati tahap prastudi kelayakan dan diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai Rp600 triliun.
Realisasi proyek hilirisasi tersebut akan dipimpin langsung oleh Danantara Indonesia. Pemerintah menekankan bahwa percepatan pelaksanaan proyek sangat penting untuk mendukung program pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Selain PSEL, pemerintah juga akan memulai groundbreaking proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). DME merupakan bagian dari hilirisasi batu bara di mana batu bara berkalori rendah diolah menjadi gas alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG.
Dampak Lingkungan dan Energi dari Proyek PSEL
Proyek Waste to Energy diharapkan membawa dampak positif bagi lingkungan dengan mengurangi volume sampah terbuka. Hal ini sekaligus menurunkan risiko penyakit dan gangguan kesehatan masyarakat akibat tumpukan sampah.
Selain itu, energi yang dihasilkan dari PSEL akan menjadi salah satu alternatif untuk mendukung kebutuhan listrik nasional. Teknologi ini dirancang untuk menjadi solusi inovatif sekaligus berkelanjutan dalam mengelola sampah kota besar di Indonesia.
Dengan pengolahan sampah menjadi energi, pemerintah berharap ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, terutama batu bara, dapat berkurang. PSEL menjadi salah satu upaya konkret menuju kemandirian energi dan ramah lingkungan.
Sinergi Energi, Pertanian, dan Proyek Hilirisasi Lainnya
Prasetyo menambahkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada proyek energi, tetapi juga pada sektor pertanian dan program-program strategis lainnya. Semua program ini dikoordinasikan untuk mendukung pembangunan nasional secara holistik dan terintegrasi.
“Selain proyek Waste to Energy, kemudian juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, program-program di bidang pertanian juga,” ujar Prasetyo. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memadukan hilirisasi industri dengan pembangunan sektor vital lain.
Pemerintah menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan proyek melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Sinergi ini diperlukan agar target pembangunan strategis dapat tercapai tepat waktu dan menghasilkan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Groundbreaking 18 proyek hilirisasi, termasuk PSEL dan DME, menjadi tonggak penting transformasi energi nasional. Proyek ini dirancang untuk mendukung diversifikasi energi, efisiensi sumber daya, dan pembangunan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
PSEL akan menjadi model pengelolaan sampah yang inovatif dan hemat biaya. Dengan pemanfaatan teknologi mutakhir, sampah kota besar dapat diolah menjadi energi bersih dan berkelanjutan.
Pemerintah menargetkan seluruh proyek hilirisasi mulai dikerjakan paling lambat Maret 2026. Langkah ini memastikan investasi besar sebesar Rp600 triliun dapat segera direalisasikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Teknologi Waste to Energy juga diharapkan mendorong penelitian dan inovasi lokal. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mengolah sampah, tetapi juga menghasilkan teknologi energi terbarukan berbasis lokal.
Groundbreaking proyek PSEL dan DME menjadi simbol komitmen pemerintah terhadap pembangunan berkelanjutan. Semua pihak yang terlibat diminta bekerja cepat, cerdas, dan inovatif untuk percepatan proyek nasional.
Keberhasilan proyek ini juga akan menjadi contoh implementasi hilirisasi strategis secara efektif. Dampaknya diharapkan meningkatkan kualitas lingkungan, ketahanan energi, dan produktivitas industri dalam negeri.
Selain itu, percepatan hilirisasi industri akan membuka peluang lapangan kerja baru. Proyek PSEL dan DME dapat menciptakan tenaga kerja terampil sekaligus meningkatkan kapasitas teknologi nasional.
Pemerintah menegaskan bahwa inovasi dan percepatan proyek harus berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan. Sinergi energi, pengelolaan sampah, dan diversifikasi industri menjadi kunci keberhasilan program nasional.
Dengan semua langkah strategis ini, proyek hilirisasi diharapkan memberikan dampak nyata pada masyarakat dan ekonomi. PSEL, DME, dan program strategis lain menjadi bukti nyata komitmen pemerintah terhadap pembangunan modern dan ramah lingkungan.